Ketika Korsa Menjadi Alasan

Kau penggal satu kepala, maka 2 kepala akan menggantikannya.
Kalau kamu pernah nonton Captain America, maka kalimat diatas tidaklah asing. Adalah sebuah kalimat yang selalu dilontarkan para tentara Hydra, bila menghadapai perang. Sebuah solidaritas yang menarik.
Mungkin itu yang terlintas dipikiran para pelaku penembakan narapidana di Lapas Cebongan. Pastinya kalian sudah pernah mendengar beritanya kan?
Penembakan yang dilakukan oleh 17 orang pada dini hari tanggal 23 Maret 2013. Pelaku mengincar 4 narapidana yang membunuh satu anggota Kopassus yang bernama sersan Heru Santoso, dan pelaku yang menembak 4 narapidana tersebut diduga dari anggota Kopassus, karena penyerangan tersebut bersifat profesional dan terencana, serta senjata yang digunakan merupakan senjata yang tidak ada di pasaran.
Untuk kronologi lengkapnya bisa baca via Wikipedia disini
Bisa dilihat disana, bahwa pelaku penembakan tersebut adalah anggota Grup II Kopassus. Beberapa media menyebutkan bahwa pelaku telah mengakui bahwa mereka melakukan penembakan terhadap 4 narapidana.http://raditiamadya.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif
Oke, mari kita lihat dulu.
Beberapa publik ada yang pro ada yang kontra dengan masalah ini. Ada yang mengatakan bahwa tindakan ini tidak sesuai dengan sifat TNI dan melanggar HAM, atau bisa dibilang main hakim sendiri dengan menembak para napi tanpa pikir panjang.
Secara hukum, mereka memang salah, menembak para napi dengan tidak manusiawi dan melanggar HAM, dan juga tindakan seperti ini bisa mencoreng nama TNI, lebih-lebih Kopassus. Padahal ini bukan kali pertama nama Kopassus tercoreng.
Tapi, kalau gue lihat secara perasaan, mereka melakukan itu atas satu dasar, Korsa. Komando satu rasa. Memang kita tidak tahu rasanya jadi mereka, kehilangan rekan seperjuangan, kehilangan keluarga.
Bagi kita ya, rekan hanyalah rekan biasa, beda dengan cara pandang mereka, tetapi entah kenapa, gue ngerasain gimana kalau jadi mereka, ketika punya teman yang susah, susah bareng dan senang, senang bareng, itulah yang gue suka dari tentara.
Individualisme dan egoisme dalam militer itu tidak ada, yang ada kepercayaan yang sangat terhadap rekan mereka. Publik pasti akan mengecam para pelaku. Ya mungkin yang mereka nilai adalah tindakan pelaku, bukan dari isi hati sang pelaku.
Yang mereka incar bukan orang awam, tetapi orang yang secara biadab telah membunuh rekan sesama anggota Kopassus. Menurut gue, saat itu mereka tidak lagi memikirkan tentang hukum di Indonesia, tetapi yang mereka rasakan adalah kesedihan akan rekannya yang dibunuh, dan atas dasar korsa tersebut, mereka melakukan penembakan terhadap narapidana.
Solidaritas prajurit memang mengerikan, mereka tidak dengan mudah akan meninggalkan rekannya, walaupun dalam keadaan mati sekalipun.
Disini gue gak ngelihat dari penembakan yang mereka lakukan, tetapi dari rasa sesama satu anggota, mereka berani membunuh hanya karena kehilangan rekannya membuktikkan solidaritas mereka yang sangat tinggi. Inilah perbedaan antar awam dengan militer.
Terlebih mereka yang melakukan penembakan telah mengakui perbuatannya, ini berarti berani berbuat, berani bertanggung jawab.
Ketika korsa menjadi alasan, apapun mereka balas setimpal, mungkin ketika sang penembak mulai mengeksekusi, yang dirasakannya adalah sebuah kesedihan.
"Ini untukkumu kawan..."
Mereka tidak berpegang pada hukum kembali, tetapi cintanya mereka pada rekan, pada keluarganya.
tetap semangat untuk semuanya, untuk TNI dan Kopassus. Komando!!!

Posting Komentar