Review Film Cinta Brontosaurus


Siang tadi gue nonton film terbaru dari Raditya Dika yang berjudul Cinta Brontosaurus, Film yang memang khas sekali dengan gaya Dika yang selalu bisa membawa hal kecil menjadi sesuatu yang kocak. Di film tersebut Dika tetap memerankan dirinya, tidak seperti film serialnya Malam Minggu Miko.

Seperti pada post gue sebelumnya tentang Iron Man 3, gue gak bakal bahas film secara full di sini. Kasihan yang belum nonton, ntar malah gak seru.

Film ini menceritakan kisah cinta Dika yang selalu berujung putus, sehingga dia menarik kesimpulan bahwa ada saatnya ketika cinta akan kadaluarsa, dan saat itulah maka hubungan akan berakhir.
Memang beberapa scene pernah kita temukan di bukunya dan juga beberapa dari standup comedy yang pernah dia lakukan. Walaupun begitu, tetap bikin gue ngakak. Dan beberapa juga ada yang tidak gue temukan di buku, tapi ada di film, mungkin penambahan dari Dika agar filmnya tidak terkesan full mencontek dari buku.

Film yang menceritakan beratnya mencari orang yang tepat untuk menjadi pasangan, memang apa yang di film tersebut merupakan realita dari percintaan sekarang.
Memang banyak komedi yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal, namun scene yang membuat kita terenyuh dalam arti terdapat sebuah pelajaran hidup, terutama tentang cinta. Dan dilihat dari setingnya bahwa memang film tersebut dari kisah nyata Dika yang muncul di buku lalu difilmkan. Kehidupan awal Dika ketika membuat buku ke-2nya.

Sekali lagi, Dika bisa membuat kita semua tertawa, entahdari buku ataupun dari film, dengan lagak lucunya yang menag khas itu, tidak heran bila bioskop selalu ramai dengan tawa. Karena dia bisa membuat sebuah masalah yang dihadapinya menjadi sebuah cerita jenaka, tetapi bermakna.

Yang belum nonton, silakan menonton, karena ini adalah salah satu film Indonesia yang jangan sampai terlewatkan. Yang belum nonton, lihat trailernya aja dulu :)

Yang gue suka dari Raditya Dika adalah dia adalah orang yang unik, bisa menuangkan kata-kata dengan baik, kapan kita harus tertawa dan kapan kita bisa mengambil sebuah pelajaran yang bercermin dari kehidupannya. Semoga semua bukunya bisa menjadi film :)

Mari tunggu film Raditya Dika selanjutnya, Cinta Dalam Kardus.


2 komentar

Radit memang keren film dan bukunya, tapi entah kenapa saya tidak pernah bisa tertawa dengan guyonannya radit. Memang garing atau selera humor saya ya yang kurang?

Reply

Ya kadang memang guyonannya ada yang kelewatan, tapi yang bikin saya mengacungkan jempol ke Radith adalah dia bisa menempatkan kata-kata. Kapan bercanda dan kapan bisa memberikan motivasi :)

Kalo soal selera humor sih emang beda-beda... :D

Reply

Posting Komentar