Data Personalisasi: Mereka Tahu yang Kamu Mau

Pernah ga sih ketika kamu lagi buka Facebook, atau bukan website yang yang ada iklannya, dan iklan yang muncul pasti match sama hal yang kamu suka/hal yang baru aja kamu cari? Pernah ga kamu mikir, kok bisa sih iklannya pasti pas terus sama "aku"? Kok bisa si mereka, siapapun itu, bisa tahu hal-hal yang sering aku cari?

Contohnya, gue baru aja searching model-model jam tangan di suatu website. Gue bolak-balik klik sana, klik sini, klik model jam  tangan yang menurut gue cocok kalo gue pake. Seperti alasan mahasiswa pada umumnya (baca: ga ada duit), akhirnya gue close webistenya terus ganti ke Facebook. Tiba-tiba iklan yang ada di Facebook gue adalah iklan dari website jam tangan yang baru gue visit. Terus gue iseng-iseng buka blog ini secara di blog ini juga ada iklannya, dan seperti yang gue duga, semua iklannya jadi iklan jam tangan dari website tadi, model-modelnya pun sama kayak yang gue search tadi.

Pernah kepikiran kenapa bisa?








Sebagai orang yang sedang menggeluti kuliah di bidang teknologi, gue merasa gagal. Bukan. Bukan gara-gara IP gue pas-pasan, tapi gue baru paham gimana caranya tuh iklan-iklan bisa selalu pas sama yang gue cari. Gue juga taunya baru kemarin sore sih. Jadinya yaaa gitu..

Terus kenapa mereka bisa tau apa yang kamu cari?

Well, jawabannya adalah mereka tau dari DATA.

Data? Kok data? Data apa?

Nah, seiring berkembangnya teknologi, tentunya jumlah data digital meningkat pesat juga, dong. Data bisa berupa apa aja, layaknya sebuah database. Bertahun-tahun kumpulan data itu hanya "ada" saja, tapi tidak dimanfaatkan. Seperti tumpukan kertas di meja, semakin lama semakin banyak, tetapi hanya menumpuk saja. Akhirnya data-data tersebut digunakan oleh beberapa perusahaan untuk menambah experience usernya. Salah satu contohnya ya soal iklan tadi. Hal-hal yang kamu cari di internet, terutama yang berhubungan dengan e-commerce akan direkap dan dijadikan data mereka, lalu dari data tersebut, mereka menggunakannya untuk memunculkan iklan barang/hal yang kamu cari di setiap website yang kamu kunjungi.

Contoh lain adalah, buat kamu yang pakai aplikasi Spotify. Biasanya secara otomatis mereka akan membuatkan kamu sebuah playlist yang berisi genre-genre musik kesukaanmu. Kira-kira gimana mereka bisa tau? Ya tentunya dengan merekam kebiasaanmu ketika lagi dengerin lagu pakai Spotify, genre apa yang sering kamu dengar, dan kemudian mereka menggunakan data itu untuk bikinin kamu playlist yang sesuai dengan genre musik yang sering kamu dengar.

Inilah yang biasanya disebut data personalisasi. Mereka mengumpulkan data dari kebiasaan kita di internet.

Yang lebih unik lagi, data personalisasi ini juga digunakan dalam dunia olahraga! Bayangkan kita bisa mengefektifkan suatu tim olahraga dengan melihat dari kebiasaan mereka. Misal sepakbola, kebiasaan pemain A dalam menendang, mengoper, jaga posisi, jika dipadukan dengan kebiasaan pemain B, apakah bisa menghasilkan suatu tim sepakbola yang efektif? Tentunya kita bisa memprediksinya dengan melihat dari data kebiasaan masing-masing pemain. Menarik kan? :)

Sebenarnya ini cara yang sungguh pintar, karena dengan ini, audience mereka jadi lebih bisa tertarget karena iklan yang dimunculkan selalu sesuai dengan kebiasaan mereka atau hal yang mereka cari. Dan mereka bisa memberikan kita experience yang lebih dengan melihat dari data kebiasaan kita.

Posting Komentar