Pindah Medium(?)


Kayaknya sekarang blog udah ga laku ya? Dulu gue gabung sama komunitas blogger di Facebook, sering banget share tulisan-tulisan. Dulu share ya tulisan ya karena emang mau sharing cerita, pengalaman, curhat lewat blog. Sekarang kayanya blog cuma dipakai buat "nambang" duit dari adsense.

Pernah waktu gue KKN dulu di Sulawesi, ada Bapak-bapak nanya ke gue soal blog. Waktu itu emang gue lagi pakai korsa Hima jadi keliatan ada tulisan ilmu komputer gitu  - mungkin bapaknya kira gue bisa bantu. Dan benar aja, pertanyaan dia gimana ningkatin traffic blog. Gimana biar tulisan kita bisa masuk page nomor 1-nya Google. Template apa yang harus kita pakai, dan sebagainya. Memang sih hal-hal semacam gitu penting banget kalau lo punya blog. Tapi gue ngerasa dulu tuh orang kalau ngeblog ya ngeblog aja. Perihal tulisan dia dibaca atau engga ya yang penting nulis dulu aja. Urusan traffic, SEO, dan sebagainya nomor sekian dan bakal mengikuti seiring lo update post di blog lho.


Tapi ya itu, mungkin emang udah bukan jamannya nulis di blog ya?

Dari sini mungkin ada beberapa hal yang bisa gue dapat kenapa sekarang blog lesu banget. Dari grup Facebook yang dulunya aktif, sekarang boro-boro ada yang update share artikel. Yang ada jualan akun Adsense.

  1. Tujuannya udah beda
    Kaya yang gue bilang diatas. Tujuan blog yang dulunya isinya cerita, sharing, curhat dan sebagainya, sekarang tergantikan sama materi atau cari untung. Konsepnya sih bikin blog sebanyak-banyaknya, bikin artikel banyak juga di tiap post yang kiranya orang bakal googling itu. Dan voila! Blog anda ramai pengunjung!

    Menurut gue sih, gue buka blog orang karena gue mau - karena gue mau baca ceritanya, karena gue suka tampilan blognya. Ya karena gue mau buka.

    Kalau dilihat pun, blogger-blogger yang gue kenal dulu juga udah hilang entah kemana. Bahkan dulu Kevin Anggara ketika belum setenar sekarang dan rajin ngeblog, aktif banget di forum blog yang gue ikutin juga. Pernah gue ikut lomba kecil-kecilan yang dia adain dengan hadiah buku pertama dia yang diterbitin, cerita aib gue buka demi mendapatkan buku itu di Malu Bertanya, Keluar di Celana yang pada akhirnya gue juara kedua dengan hadiah buku yang gue review di [Review] Student Guidebook For Dummies
    Yah masa-masa itu gue aktif banget share di blog tentang apa yang ada di pikiran gue, ya kaya sekarang ini, gue cerita dan curhat soal apa yang gue rasain
  2. Microblogging
    Istilah ini udah menjamur banget dari tahun 2009an disaat Twitter booming di Indonesia. Microblogging diistilahkan sebagai sarana kita sharing tapi dengan kapasitas karakter yang terbatas. Ternyata orang Indonesia (dan dunia sepertinya) lebih tertarik dengan hal ini. Mereka bikin satu tweet yang kemudian bisa nambah tweet lagi yang jadinya timeline order. Ini emang cocok sih di Indonesia secara kita males banget baca satu tulisan panjang gini, lebih enak kalau bacanya pendek-pendek tapi ngena.

    Pada akhirnya orang-orang yang dulunya ngeblog pun akhirnya pindah jadi selebtweet.
  3. Blogger ketinggalan
    Dari jaman awal gue punya blog sampai detik ini gue update postingan. Tampilan Blogger-nya Google ga ada berubah sama sekali. Padahal beberapa bulan yang lalu, Google update besar-besaran di platformnya. Mulai dari tampilan sampai ke font. Tapi Blogger sama sekali ga ada yang berubah di tampilannya. Old Fashion banget! Mungkin itu juga jadi alasan kenapa jadi pada malas update disini lagi

    Menurut gue update UI berkala itu penting banget. Itu bisa salah satu moodbooster kita soalnya kita bisa lihat sesuatu yang baru dan mungkin fitur yang lebih baru juga.

    Dear Google if you can read this, please for God sake update your Blogger UI!
  4. Medium to the rescue
    Bisa jadi blogger bukan pensiun, tapi pindah tempat. Gue tau Medium dari teman gue. Awalnya gue kira itu semacam tempat berita-berita yang dikurasi atau dikumpulin jadi satu. Ternyata semua orang bisa nulis, persis blogging! Tulisannya pun lebih beragam dan dari segi tampilan emang lebih simple tapi enak banget dipandang. Lebih fokus ke konten daripada tampilan yang penuh sesak sama widget.

    Mungkin disitu daya tariknya. Dulu kita harus datang ke banyak tempat untuk bisa baca banyak posting blog. Di Medium, kita cukup buka satu web, semua artikel yang ditulis bisa kita langsung dapat. Medium punya massa yang berkumpul jadi satu. Blogger juga punya sih, tapi kesannya lebih ekslusif dan tidak menyeluruh.

    Mungkin itu pula daya tariknya, kesederhanaan. Di Blogger, kita harus atur tampilan kita sedemikian hingga membuat orang tertarik. Atur sana atur sini, akhirnya konten terbengkalai demi tampilan. Di Medium atau Twitter, tampilannya sama tapi orang jadi akan fokus sama apa yang bakal mereka tulis.
Sampai disini pun gue akhirnya mikir, apakah sudah saatnya? Pindah? Sampai sekarang sebenarnya gue belum rela buat takedown blog ini, dengan segala cerita yang pernah gue tulis, dengan segala template yang gue atur sedemikian hingga gue juga bangga lihatnya.

Ketika pada nanti akhirnya tulisan ini hilang, artinya gue udah ga nulis lagi, atau pindah menulis di tempat lain dengan domain ini sebagai personal CV gue.

Pada akhirnya gue berharap bakal punya banyak ide lagi buat dituangin disini - seperti tengah malam ini, yang tiba-tiba meminta gue untuk menulis banyak cerita buat dibagikan agar blog ini tidak hanya mejeng di Google, tanpa pernah terjamah.



Semoga.

Posting Komentar